Nyai Chili dan Keberatan terhadap Pemindahan Benteng VOC dari Solor ke Kupang

Terjemahan Surat Nyai Chili kepada Gubernur Jenderal VOC, Joan Maetsuycker

Dari Niaij Chili di Solor
Kepada Yang Mulia, Tuan Gubernur Jenderal

Surat persahabatan ini aku kirimkan kepada Yang Mulia Tuan Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker beserta seluruh anggota Dewan XVII di Kastil Batavia. Kiranya Allah Yang Mahabesar melimpahkan berkat kepada Tuan sekalian, baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang, sebab segala berkat hanya berasal dari Tuhan Yang Mahakekal.

Aku telah mendengar bahwa Yang Mulia, Tuan Gubernur Jenderal telah memerintahkan agar orang-orang Kompeni meninggalkan benteng di Pulau Solor. Jika demikian, lantas apakah yang harus kami lakukan terhadap keputusan itu? Padahal orang-orang Solor tidak pernah berbuat salah terhadap Kompeni. Kami juga mendengar bahwa Yang Mulia memerintahkan agar benteng itu dipindahkan dan didirikan di Kupang, namun sesungguhnya tidak ada alasan untuk melakukan hal tersebut, sebab orang-orang Solor tidak mempunyai kesalahan apa pun terhadap Kompeni.

Sebaliknya, kami semua di Solor telah bertekad untuk tetap bersama Kompeni, baik dalam suka maupun duka, dalam hidup maupun mati. Tidak ada keinginan lain di hati kami, selain tetap setia kepada Kompeni. Hati kami tidak akan pernah berpaling atau terpisah dari orang-orang Belanda.Kami juga mendengar bahwa Yang Mulia memerintahkan agar Kapten Hendrik ter Horst menetap di Kupang. Meskipun demikian, hati kami tidak akan melupakan hal itu dan kesetiaan kami kepada Kompeni tidak akan berubah.

Selanjutnya, Tuan Gubernur Jenderal juga mengatakan bahwa kami semua sebaiknya pindah dan tinggal bersama di Pulau Rote. Akan tetapi, kami orang Solor tidak terbiasa meninggalkan negeri kami untuk menetap di negeri lain. Leluhur kami hidup di tanah mereka sendiri dan meninggal di sana. Mereka tidak pernah berpindah ke tempat lain. Lagi pula, jika Pulau Rote adalah tanah milik Kompeni, maka Solor pun merupakan tanah milik Kompeni. Tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Mengenai Portugis, apabila Kompeni menganggap Portugis adalah musuh, maka kami pun akan menganggap mereka sebagai musuh kami dan kami tidak akan berhenti memandang Portugis sebagai musuh. Janganlah kiranya terdengar lagi perkataan seolah-olah kami akan memihak Portugis atau mengangkat tangan melawan Kompeni. Hal seperti itu tidak pernah dilakukan oleh leluhur kami sampai hari ini. Memang pada masa sekarang masih ada sebuah negeri yang berpihak kepada Portugis, yaitu Pamang-Kayu. Akan tetapi karena sengaji (kepala negerinya) berada dalam kekuasaan Kapten Hendrik ter Horst, maka aku telah memohon agar ia bersedia berdamai dengan orang-orang di sana, sebab negeri itu merupakan satu kesatuan dengan negeri kami. Kami telah melakukan segala yang kami mampu agar negeri kami tetap menjadi wilayah milik Kompeni dan bukan milik pihak lain.

Selanjutnya, ketika Gubernur Vlamingh berangkat dari Ambon menuju Timor, siapakah yang mengikutinya? Bukankah hanya penduduk dari tiga negeri kami, yakni Loewajang, Lemkier, dan Trang? Memang sengaji dari Adonara datang dengan dua perahu, tetapi ia tidak menjumpai Laksamana Vlamingh sehingga kembali pulang. Bukankah Tuan Vlamingh telah melihat siapa saja yang tidak mengikutinya, lantas mengapa mereka tidak segera dihukum? Bukankah Tuan Vlamingh adalah seorang pembesar, sedangkan aku hanyalah seorang perempuan. Apalah artinya pengetahuan dan kekuasaan yang saya miliki jika dibandingkan dengan seorang yang demikian besar?

Lalu, mengenai mereka yang mengikuti Tuan Vlamingh dalam perjalnanan ke Timor [untuk berperang], siapakah yang mengangkut mesiu dan peluru? Siapakah yang membawa sumbu senapan? Siapakah yang memikul seluruh perlengkapan? Apakah orang-orang Rote? Orang-orang Sabu? Orang-orang Amabi? Orang-orang Sonbai? Para serdadu? Para pelaut? Atau siapakah mereka yang mengangkat orang-orang yang terluka di pegunungan hingga dibawa turun ke sekoci? Bukankah semua itu dilakukan oleh rakyatku sendiri? Mereka semua adalah anak-anak para sengaji dan orang-orang terhormat. Mereka bahkan tetap tinggal di Timor bersama Jacob van der Heijden, semata-mata hanya demi kepentingan Kompeni dan bukan demi kepentingan kami di Solor.Demikianlah keadaan kami demi Kompeni.

Sekarang Tuan Gubernur Jenderal memerintahkan agar benteng didirikan di Kupang dan di Rote. Baiklah, apabila demikian kehendak Tuan. Akan tetapi, apabila suatu ketika kami menghadapi kesulitan di Solor, kami memohon dengan sangat agar Kompeni berkenan membantu kami dengan sedikit mesiu, peluru, senjata, dan beberapa orang serdadu untuk mempertahankan tanah milik Kompeni, supaya dengan demikian jangan sampai negeri ini jatuh ke tangan musuh. Keadaanku sangat terbatas dan aku hanyalah seorang perempuan. Aku tidak mempunyai persembahan apa pun yang dapat dikirimkan kepada Tuan Gubernur Jenderal selain salam hormat yang sebesar-besarnya. Aku mohon, janganlah melupakan Solor.

Sumber: Dagh-register gehouden int Casteel Batavia vant Passerende daer ter plaetse als over geheel Nederlandts-Indie Anno 1656-1657

toetoer 2

 

Alamat : Jalan Murbey, no 10, Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama,

Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, 85226.

Email : toetoer22@gmail.com

Instagram : @toetoer_official